Kamis, 17 Januari 2019

Ziarah Wali Songo (lagi)

dok. pribadi
Pagi yang indah. Sinar sang surya menyinari seantero Mayapada. Langit biru sedikit tersaput awan putih. Lalu-lalang kendaraan mulai ramai. Pukul enam pagi orang-orang  sudah mulai berangkat bekerja. Berbeda dengan kami, pagi ini kami akan melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa. Menziarahi makam para Wali yang menjadi penyebar agama Islam pertama di Tanah Jawa. Menapaki kembali jejaknya. Sambil berharap, kami dapat sedikit memperoleh pelajaran dari perjalanan ziarah kali ini.

Bus telah sampai di depan Dealer Suzuki Pakal. Sama seperti tahun kemarin, kami memakai Bus Kalisari. Dengan sopir yang sama pula yaitu pak Max dan dua orang teman beliau. Kami segera naik. Tujuan pertama yaitu makam Sunan Ampel. Kebetulan pas ada acara "Haul" di makam mbah Sunan. Maka bisa dipastikan di sana nanti akan sangat ramai peziarah.

Selasa, 15 Januari 2019

Simbok di Pasar

Ilustrasi: google
Pagi menjelang. Embun masih enggan mengering dari dedaunan. Matahari masih belum menampakkan sinarnya. Seorang Ibu yang sudah sepuh menggendong rinjing (keranjang bambu) memasuki pasar untuk menggelar dagangannya.

Disertai doa dan harapan agar banyak yg membeli barang dagangannya hari ini. Dari raut wajahnya, menunjukkan ketegaran hati, rasa optimisme dan semangat juang yg gigih dalam mencari nafkah.

Dagangannya berupa sayur-sayuran.
Ada jagung, sawi, kangkung, tomat, dan cabe juga pisang kepok. Ia gelar tikar. Satu persatu sayur mayur ia keluarkan dari rinjing. Ia tata rapi di atas tikar. Saya pun berjalan mendekati beliau.
"Mbok, pisang kepok'e setunggal cengkeh pintenan?" Tanya saya seraya memilih pisang kepok.
"Sepuluh ewu nak," jawab Simbok.
Sembari memilih, saya ajak beliau ngobrol.
"Rumahnya mana mbok?"
"Saya aslinya Babat Lamongan."
"Wis suwe mbok jualan dipasar sini?"
"O yo wis lumayan suwe,  hampir sepuluh tahun."
"Sudah lumayan lama juga ya mbok?"
"Iya nak."

Jumat, 05 Oktober 2018

Badai Itu

Badai itu menghempasmu tanpa ampun
Perahumu pecah berkeping-keping
Karam. Tenggelam

Segalanya hancur tak tersisa
Terbakar jadi abu
Sirna tanpa cahaya

Kau meraba-raba dalam gulita
Tak ada arah
Tak ada rumah

Hanya satu jalan
Untuk utuh abadi
Mendekap erat

Rasa syukur itu

Sabtu, 18 Agustus 2018

Biola Itu Akhirnya Saya Jual

Ilustrasi: http://jabar.tribunnews.com/2017/06/19/
ingin-coba-main-biola-nih-7-tips-cara-main-biola-untuk-pemula
Jadi begini ceritanya, beberapa bulan lalu saya akhirnya membeli sebuah biola. Bukan biola baru sih tapi bekas. Sudah lama sebenarnya saya ingin bisa memainkan biola. Ingin membeli baru, namun selalu saja ada alasan hingga urung membelinya. Hingga saya diajak oleh sepupu berkunjung ke Gresik, tepatnya di desa Bungah, ke rumah temannya sepupu saya. Orang-orang memanggilnya Pak Acil. Kesan ramah dan murah senyum langsung melekat di benak saya ketika bertemu, beliau sudah berumur 50-an. Ternyata beliau adalah pembuat rebana dan kendang.

Rabu, 25 Juli 2018

Cintaku Indonesia

Telah merasuk cinta dalam jiwa
yang terus menggelora
Telah membuncah rindu dalam relung sukma
yang kian membara

Tak ada lagi tanya dan duka
Tak ada lagi resah dan gundah
Tak ada lagi aku, kau, dan siapapun


Hanya satu. Indonesia

Minggu, 22 Juli 2018

Bukanlah Kau

Bukanlah kau
Jika menjadi angan tak tergenggam
Serupa embun yang rapuh
Atau cahaya yang runtuh
Tetes fatamorgana di tengah sahara

Bukanlah kau
Jika menjadi kilau tak tersentuh
Silau cahaya yang menetas
di ujung cakrawala
Titik putih di rahim samudera

Selasa, 17 Juli 2018

GELANDANGAN

Sumber gambar: http://wahyudiattin.blogspot.com/2015/09
/kisah-seorang-gembel-yang-sangat.html
Malam yang dingin. Orang itu tiba-tiba berada disitu. Ia tidur di emperan toko elektronik dan alat-alat listrik Pak Edi. Penampilannya awut-awutan, pakaiannya compang-camping.